Tak akan rumpang (mungkin)
oleh Kcng Haber pada 10 Agustus 2011 jam 19:36
kenapa kereta yang kau tunggu sekian lama itu,
kau biarkan berlalu begitu saja?
apa yang membuatmu bertahan disini?
kenapa kau hanya berdiam seolah tanah ini telah menenggelamkan kakimu
hingga kau sulit lagi untuk melangkah?
padahal dahulu kau begitu bersemangat untuk menyunting rembulan agar kau dapat membagi terang kepada makhluk yang terlalu lama hidup dalam gulita sepertimu.
aku tahu kau menganggap dirimu hanya ilalang
tapi bukankah ilalangpun menikmati wujudnya?
menikmati bentuknyamenikmati terpaan panas_hujan,
bahkan parang yang menumpas dirinya?.
tapi kau...
kurasa kau lebih mirip seekor laron.
malam ini aku kembali teringat akan sebuah tuah, sebuah sumpah, yang dulu berhamburan dari bibirmu yang memang berbau tanah itu.
tuah yang seolah tak pernah akan rumpang yang kau sajikan bahkan jejalkan kepada telinga-telinga yang sebetulnya muak mendengarkannya,
juga sumpah yang selalu kau telan lagi laksana muntah yang begitu nikmat kau jilati lagi dari wajah-wajah penagihnya,
dari kerikil jalan yang menjadi saksi ketika ikrar.
dari rumput dan tembok berdebu yang senantiasa mengawasimu tanpa letih.
dimana semua itu?
Hei... sadarlah...aku hanya sekedar mengingatkan...bahwa waktu juga memiliki usia...
tak terciumkah bau kematian yang semakin mendekat kepadamu
tak kau lihatkah letih tubuh ringkih yang menanti pembuktian semua itu darimu ??
keluarga...
kekasih..
sahabat..
kerabat...
kau letakkan disudut sebelah otakmu yang mana mereka?
kau ukirkan di dinding sebelah mana dalam hatimu nama-nama mereka?
Munafik !!
pecundang !!
pengecut !!
hanya kata itukah yang mengambang dalam kepalamu??
hanya kata melemahkan yang mendorongmu kearah kematian itukah,
yang tertulis dengan huruf raksasa di dinding-dinding hatimu ??!!
aku tahu kini...!!
setiap kali kau telah mengkaji dirimu seperti ini...
kau hanya akan berkata...
aku masih beruntung masih mengenali diriku hingga detik ini...