sysnix

sysnix

Rabu, 12 Oktober 2011

Tak akan rumpang (mungkin)

oleh Kcng Haber pada 10 Agustus 2011 jam 19:36
kau  menunggu apa? 
kenapa kereta yang kau tunggu sekian lama itu,
kau biarkan berlalu begitu saja?
apa yang membuatmu bertahan disini? 


kenapa kau hanya berdiam seolah tanah ini telah menenggelamkan kakimu
hingga kau sulit lagi untuk melangkah? 


padahal dahulu kau begitu bersemangat untuk menyunting rembulan agar kau dapat membagi terang kepada makhluk yang terlalu lama hidup dalam gulita sepertimu. 


aku tahu kau menganggap dirimu hanya ilalang
tapi bukankah ilalangpun menikmati wujudnya? 
menikmati bentuknyamenikmati terpaan panas_hujan,
bahkan parang yang menumpas dirinya?.

tapi kau... 
kurasa kau lebih mirip seekor laron.


malam ini aku kembali teringat akan sebuah tuah, sebuah sumpah, yang dulu berhamburan dari bibirmu yang memang berbau tanah itu.


tuah yang seolah tak pernah akan rumpang yang kau sajikan bahkan jejalkan kepada telinga-telinga yang sebetulnya muak mendengarkannya,
juga sumpah yang selalu kau telan lagi laksana muntah yang begitu nikmat kau jilati lagi dari wajah-wajah penagihnya,
dari kerikil jalan yang menjadi saksi ketika ikrar.
dari rumput dan tembok berdebu yang senantiasa mengawasimu tanpa letih.

dimana semua itu?

Hei... sadarlah...aku hanya sekedar mengingatkan...bahwa waktu juga memiliki usia... 

tak terciumkah bau kematian yang semakin mendekat kepadamu
tak kau lihatkah letih tubuh ringkih yang menanti pembuktian semua itu darimu ??

keluarga...
kekasih..
sahabat..
kerabat...

kau letakkan disudut sebelah otakmu yang mana mereka? 
kau ukirkan di dinding sebelah mana dalam hatimu nama-nama mereka? 


Munafik !!
 pecundang !!
pengecut !!


hanya kata itukah yang mengambang dalam kepalamu??
 hanya kata melemahkan yang  mendorongmu kearah kematian itukah,
yang tertulis dengan huruf raksasa di dinding-dinding hatimu ??!!

aku tahu kini...!!
setiap kali kau telah mengkaji dirimu seperti ini...
kau hanya akan berkata...

aku masih beruntung masih mengenali diriku hingga detik ini...




pawana dan pawaka


Pawana dan pawaka

oleh Kcng Haber pada 12 Oktober 2011 jam 7:38
Aku kehilangan sapa hangatmu dikala pagi.
sapa yang selalu mendahului secangkir kopi yang biasa kubuat untuk hangatkan perut.

Masih Kucari kau diantara sisa pagi hingga mentari meninggi,
bahkan ketika hari hendak menutup dirinya aku masih belum mendapatimu,

pawana apa yang menggoyahkanmu?,
Badai apa yang menyesatkanmu hingga inci-demi inci kau mulai berubah arah?


Kala hari mulai gelap, aku hanya termenung membayangkan betapa indah ketika kali pertama kau menjumpaiku, yang saat itu jiwaku tengah sekarat.
dan tak berdaya melawan sunyi yang selalu menawarkan kematian dengan segera.


Dan  ketika kau datang menghampiri, dari mulutmu menetes kata-kata yang terasa manis dan sulit dilupakan itu, aku tersadar bahwa masih ada dunia kehidupan yang tersisa untukku,


kau seperti malaikat tanpa sayap yang menjulurkan tangan membangkitkan aku, kaulah dewa yang menebar bibit-bibit pohon diantara bukit-bukit lumpuh.
kaulah keajaiban terbesar dalam hidupku ketika itu.

Jika perubahanmu disebabkan letihmu karena tak mendapati apa yang kau cari dalam diriku, maka jangan salahkan aku.
Karena jauh sebelum rasa ini menjalar dan mengakar keseluruh tubuhku.
Aku sudah mengatakan padamu bahwa disini hanya ada aku, dan segala KEKURANGANKU, tak ada dia atau siapapun.
Bahkan akupun tak mau menjadi dia, atau siapapun.

Dan saat itu kepalamu terangguk,
Tertawa ringan, mengerdip manja, menandakan sikap setuju.  

Tapi kemana kau hari ini...

Disaat hatiku dipenuhi kekhawatiran dan rindu.
rindu yang tak pernah padam dan selalu membuatku terpekur dikala siang atau malam.
Kala dekat atau terbentang jarak.
kemana lagi kau gantungkan  semua itu...
apa yang membuatmu  lupa bahwa aku telah MEMATUNG diri untuk setia hingga aku lapuk nanti


sepagi sepetang
aku akan tetap disini menantimu
meski sepeku badai menghantam
pawaka membakar,  janji takkan ingkar.
bahwa aku teramat sayang padamu supar